Jumat, Juni 25, 2021
Beranda Daerah Sinergitas Kemitraan Mampu Turunkan AKI, AKB dan Stunting Di Jawa Timur

Sinergitas Kemitraan Mampu Turunkan AKI, AKB dan Stunting Di Jawa Timur

Berdikaripos.com | Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sinergitas kemitraan mampu menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan juga stunting (kekurangan gizi kronis selama periode paling awal pertumbuhan dan perkembangan anak). Sinergitas yang dimakud yakni kerjasama secara komperhensif dengan beberapa Organisasi Masyarakat (Ormas), Kampus serta dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis.
“Karena di Jatim sebetulnya partipasi masyarakat tinggi, oleh karna itu format yang dibangun dengan ormas apakah itu NU, Aisyah, misalnya, menjadi penting untuk terus dilakukan komunikasi secara berkelanjutan,” kata gubernur pada peringatan HUT Ke-47 Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jatim secara virtual di Bakorwil Malang, Selasa (16/3/2021).
Gambaran kematian Ibu di Jatim menjadi catatan, dimana tahun 2020, ada 565 ibu yang meninggal dengan beberapa yang memiliki komorbid infeksi jantung, bronkitis, pneumonia lain sebagainya. Angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dua tahun sebelumnya. Dimana pada 2019 tercatat 520 kasus dan pada 2018 ada 522 kasus.
“Kabupaten Jember, Jombang dan Kabupaten Kediri menjadi penyumbang kasus AKI terbanyak,” terangnya.
Sedangkan untuk data AKB tahun 2020 mencapai 3.611 bayi dan 253 angka kematian balita. Dari kasus angka kematian bayi, sebanyak 2.151 berjenis kelamin laki-laki dan 1.460 berjenis kelamin perempuan. Sementara untuk kasus kematian balita banyak disebabkan oleh pneumonia, diare dan demam.
Sementara untuk kasus Stunting, Jawa Timur masih berada di posisi di bawah rata-rata nasional. Tahun 2020 tercatat sebesar 26,86 persen, sementara rata-rata nasional berjumlah 27,67 persen. Beberapa kabupaten dengan angka kasus stunting tertinggi, antara lain Kabupaten Probolinggo, Lumajang dan Sumenep.
“Kami diskusikan dengan kepala BKKBN mengenai penurunan stunting. Maka dari itu dasar penggunaan data sangat penting, agar intervensi berjalan baik. Meski Jatim dibawah rata-rata nasional, angka stunting harus diturunkan,” tegas Khofifah.
Dikesempatan yang sama, Khofifah juga meminta kepada PPNI Jatim untuk mendedikasikan para perawatnya memberikan layanan di Pondok Kesehatan Masyarakat (Ponkesdes). Dimana Ponkesdes ialah sarana pelayanan kesehatan yang berada di desa/kelurahan yang lebih mengutamakan promotif dan preventif dalam menjamin derajat kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah desa/kelurahan.
Hingga saat ini, tercatat sebanyak 3.213 Ponkesdes telah didirikan Pemprov Jatim. Adapun tugas dari para perawat Ponkesdes antara lain memberikan pembinaan (Pos Binaan Terpadu (Posbindu) dan Kader, Penanganan Kegawatdaruratan, Pendataan Statis dan Dinamis terhadap sasaran Posbindu, promotive dan preventif (kunjungan rumah), pencatatan dan pelaporan penyakit menular, penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa, serta membantu bidan melaksanakan program kesehatan ibu dan anak. (***KIJ)
RELATED ARTICLES

Populer