Seniman Bondowoso Promosikan Kotanya dengan Miniatur Monumen Gerbong Maut

Seniman Bondowoso Promosikan Kotanya dengan Miniatur Monumen Gerbong Maut

BONDOWOSO JAWA TIMUR — Bagi masyarakat kota Bondowoso, Monumen Gerbong Maut tentunya sudah tidak asing lagi. Letaknya  berada di jantung kota, alun-alun RBA KIRONGGO bagian selatan, tepatnya di jalan Amir Kusman.

Namun kalau ditanya siapa yang peduli, sampai membuat miniatur monumen gerbong maut, mereka banyak yang geleng kepala. Mereka tidak tahu siapa seniman yang membuatnya.

Untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca, wartawan media ini menghubungi dan wawancara dengan seorang seniman lukis dan pemahat batu asli Bondowoso bernama Yusuf Ichtiarto.

Kepeduliannya membuat miniatur Monumen Gerbong Maut sebagai bentuk kepedulian terhadap sejarah perjuangan bangsa. Sekaligus bangga dan memperkenalkan Bondowoso melalui Suvenir.

“Saya berangkat dari peduli dan bangga akan monumen gerbong maut, yang membuat kota saya ini terkenal bukan hanya tape singkongnya.” Ungkapnya.

Kang Yus sapaan akrab Yusuf Ichtiarto (52) yang sehari-harinya berjualan bensin eceran, juga sibuk membuat miniatur monumen gerbong maut. Work shop atau studio miliknya berada di jalan Dr.Soetomo Bondowoso.

Di ruang yang hanya ukuran 3x4m, Kang Yus memproduksi miniatur monumen gerbong maut tiga ukuran. Mulai dari kecil, sedang dan besar. Harga yang dibandrol bervariasi jelasnya.

“Untuk harga bervariasi tergantung pesanan yang diminta, namun kisaran harga dari harga 50ribu sampai 250ribu,” ucap Kang Yus .

Miniatur monumen gerbong maut yang dibuatnya memang mengadopsi dari gerbong aslinya. Monumen nomer 10152,  tertulis BM (Berat Max) 15.000 dan KM (Kapasitas Max) 15.750 yang menunjukkan muatan dan isi gerbong.

“Memang saya buat persis sama, agar para pembeli oleh oleh khas Bondowoso benar-benar tahu akan kebenaran sejarah gerbong maut ini,” kata Kang Yus lebih detil.

Kang Yus menamakan studio miliknya “Art studio 10152“, dengan harapan bisa membawa hokki dan Bondowoso bisa terkenal bukan hanya di seantero Indonesia, namun  mendunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *