Minggu, September 26, 2021
Beranda Daerah Dilema Direktur RS Muhammadiyah Babat : Klaim Kami Belum Cair Dari Pemerintah...

Dilema Direktur RS Muhammadiyah Babat : Klaim Kami Belum Cair Dari Pemerintah Untuk Mengganti Biaya Pemulasaraan Pasien Covid-19

Berdikaripos.com | Lamongan – Maraknya pasien terkonfirmasi Covid-19 yang membuat sejumlah Rumah Sakit (RS) atau pun pelayanan kesehatan lainnya menjadi penuh sesak oleh pasien yang datang untuk berobat. Seperti halnya di RS. Muhammadiyah Babat, yang resmi melayani pasien Covid-19 per Desember 2020.

Rumah Sakit yang beralamatkan JL. KH. A. Dahlan NO. 14 Babat Kabupaten Lamongan Kode Pos. 62271 Jawa Timur ini, memang menjadi salah satu referensi masyarakat, baik dari dalam maupun dari luar Kecamatan Babat untuk berobat.

Dalam pelaksanaannya, awal sebelum RS. Muhammadiyah Babat ditunjuk sebagai RS yang menangani pasien Covid-19 memang ada sejumlah biaya yang dibebankan kepada keluarga pasien Covid-19 sebesar Rp. 3.300.000,- untuk biaya pemulasaraan.

Direktur RS Muhammadiyah (Dr. Erniek Saptowati, MARS) saat dikonfirmasi. Jum’at (20/08/2021), membenarkan adanya pungutan biaya pemulasaraan tersebut.

“Memang benar, mengenai biaya pemulasaraan itu kami bebankan kepada keluarga pasien, sebesar Rp. 3.300.000,- mengacu Permenkes (Peraturan menteri kesehatan) yang terbaru. Di awal sebelum kami mendapatkan SK untuk menangani pasien Covid-19, memang ada pemulasaraan, karena kita belum mendapatkan SK untuk melakukan pemulasaraan sendiri, akhirnya kita minta bantu pemulasaraan kepada Rumah Sakit yang lain dan yang sudah dapat SK untuk penanganan pasien Covid-19, saya bilang kepada keluarga pasien Covid-19 untuk membayarkan biaya tersebut dengan janji kalau klaim kami cair akan kami kembalikan,” terang Direktur RS. Muhammadiyah Babat.

“Mengenai persyaratan pengembalian biaya pemulasaraan pasien Covid-19 yang dijanjikan pihak RS. Muhammadiyah Babat salah satunya adalah bukti kwitansi pembayaran, serta persyaratan-persyaratan lain yang harus dilengkapi, jika pasien Covid-19 pulang secara paksa tidak bisa kita ganti biaya selama perawatan disini atau pulang atas kemauan sendiri dalam artian tidak mau adanya pemulasaraan, berarti pihak pasien Covid-19 harus membayar biaya selama dirawat di RS. Muhammadiyah sesuai kebijakan peraturan pemerintah, semua transaksi keuangan tersentral pada kasir. Kami juga merenovasi ruangan khusus pasien Covid-19 di mana kami mengacu pada instruksi Pemerintah Pusat melalui Menteri Kesehatan, harus mengalokasikan 30% tempat tidur Rumah Sakit untuk pasien Covid-19, agar tidak membahayakan lingkungan RS. Muhammadiyah, perawat dan lainnya akhirnya kami memutar otak agar mendapat solusi tersebut dengan merenovasi ruangan atas sedemikian rupa. Kami menunggu klaim yang kami ajukan segera cair, agar kami bisa mengganti biaya keluarga pasien Covid-19,” imbuh Dr. Erniek.

Yudi Puspanjoro, S. Kep., Ns. selaku Kabid Keperawatan RS. Muhammadiyah Babat, menambahkan, “Klaim kami sebesar 3 Milyar Rupiah yang kami ajukan ke Pemerintah belum cair sampai sekarang, bahkan premi pegawai dan perawat untuk bulan ini saja belum cair, untung Rumah Sakit Muhammadiyah ini punya uang, kalau tidak punya uang mungkin sudah tutup Rumah Sakit ini,” ujar Kabid Keperawatan. (Redaksi)

RELATED ARTICLES

Populer

Komunitas Football Traveler Jalin Silaturahmi Lewat Sepakbola

Berdikaripos.com | Lamongan - Gaya baru bermain bola sembari traveling pun diyakini dapat menjadi pilihan bagi pecinta sepak bola yang suka berpergian sambil olahraga....
error: Content is protected !!